Sabtu (02/02/2008) sepulang dari Bali untuk acara kantor, ternyata Banda Internasional Soekarno-Hatta masih semrawut dengan jadwal penerbangan kacau balau, baik yang akan ke Jakarta maupun berangkat dari Jakarta. Situasi yang sudah berlangsung sejak sehari sebelumnya ternyata tidak banyak berubah. Banjir masih melanda di jalan tol yang merupakan jalur utama dan “satu-satunya” jalan ke Bandara. Mengapa satu-satunya, karena jalan yang lain hanya alternatif dan tidak memenuhi syarat sebagai jalan masuk ke Bandara Internasional, yang merupakan pintu gerbang utama masuk ke Ibu Kota Indonesia atau bahkan Indonesia. Pas saat pemerintah gencar berkampanye Visit Indonesia Year 2008.

Kekacauan banjir yang melanda kali ini, seperti membuktikan bahwa pemerintah kita memang tidak punya koordinasi yang jelas, antar semua lini. Bahkan, saling menyalahkan, tanpa satupun keluar kata maaf dari mereka yang semestinya “bertanggung-jawab” atas kejaidan ini malah tidak muncul. Gubernur DKI, Jakarta malah menyalahkan rakyatnya yang suka membuang sampah sembarangan sebagai salah satu biang keladi banjir. PLN juga langsung mematikan aliran listrik, termasuk saluran listrik untuk pompa air yang seharusnya bekerja maksimal mengatasa genangan air di jalan tol. Masing-masing pihak seperti pasrah dan tidak tau harus berbuat apa mengatasi banjir, yang akhirnya praktis menghentikan pintu masuk ke bandara selama 3 hari!!!!

Suatu kejaidan yang benar-benar aneh di Indonesia yang “modern” ini bila banjir di jalan tol ke bandara bisa tergenang selama 3 hari. Sepertinya kita tidak punya alat yang bisa mengatasi banjir, padahal semua itu bisa dilakukan bila kitapunya manajemen bagus, dan koordinasi yang jelas, tanpa perlu saling menyalahkan. Ini mungkin semacam potret buram manajemen pemerintahan kita, seperti tidak bisa membaca mana yang menjadi prioritas utama dan mana yang hanya sekedar menempel. Makanya, tidak usah heran bila kemudian kita juga menemukan banyak keanehan lain, yang sudah terjadi sebelumnya, seperti langkanya tahu, tempe, akibat “hilangnya” kedelai yang seharusnya cukup mudah untuk tumbuh dan berkembang di negeri yang katanya gemah ripah loh jinawi karena semua tumbuhan tinggal kita lempar dan bakal tumbuh.

Dan banjir Sabtu (02/02) lalu memang menjadi  merepotkan, sekaligus bisa kita nikmati dengan senyuman kecut sambil menghabiskan sisa rokok yang ada, untuk menunggu bis yang akan datang, atau menunggu truk marinir yang mengangkut calon penumpang serta yang datang dari arah bandara. Truk-truk itu sedikit banyak membantu penumpang menyebrangi banjir, meski harus sabar menunggu hingga 2 jam untuk mengantrinya. Tapi setidaknya bisa menerjang banjir.

Lalu sebenarnyaini salah siapa? Bagi saya ini salah saya yang kenapa harus pulang Sabtu dari Bali, kalau pulang satu minggu lagi mungkin tidak mengalami kisah ini. :)

Sejujurnya saya ingin sekali menulis yang sangat ringan, namun entah setelah lama tak menulis blog ini, malah yang muncul kembali adalah tulisan yang terkesan serius, sok tau, dan mungkin juga menggurui. Mungkin karena cita-cita jadi guru yang gagal kali, jadi berkesan menggurui, toh mengguri nggak selalu jelek, wong orang-orang pintat di negeri ini merupakan jasa para guru, yah toh?

Menyimak berita akhir-akhir ini, baik lewat televisi, koran, atau internet, ribut-ribut dana DKP -saya ngga hafal secara persis apa kepanjangan DKP itu-, ternyata berbutun parang “perang” terbuka antara Amien Rais dan Presiden SBY. Malasahnya, Sang Presiden merasa difitnah oleh Amien telah menerima dana itu, setelah sebelumnya Amien mengaku menerima dana DKP sebesar Rp200 juta. Kalau menurut catatan kompas, ini namanya minta dana buat kampanye ke rakyat, terus setelah jadi pemimpin terus minta duit ke rakyat. Terus kapan mau memberi kepada rakyat? Waduh, saya juga tidak tau.

Kembali pada judul tulisan ini, anomali yang kini melanda negeri ini adalah meningkatnya angka-angka yang menuju pada kemakmuran negara, tapi juga disertai dengan berita tentang meningkatnya penderitaan yang dialami oleh sebagian besar rakyak Indonesia.

Angka-angka yang katanya para orang pintar sebagai indikator kemakmuran, seperti naiknya cadangan devisa yang terbesar dalam sejarah, naiknya indeks harga saham gabungan di bursa nasional, lalu menurunnya inflasi, dan disertai pertumbuhan ekonomi yang naik signifikan menjadi indikator bahwa kita telah mulai ke arah kebangkitan ekonomi yang bertumpu pada kemakmuran. Sepertinya berita ini sangat bagus sekali.

Namun, di sisi lain berita tentang penderitaan rupanya tidak kalah seramnya, mulai dari angka kemiskinan, bahkan dalam sebuah tayangan televisi ada warga miskin di Jakarta, yang anaknya tampak sangat kurang gizi, tinggal tulang dan kulit, seperti kita lihat anak-anak yang mengalami kekurangan makanan di Afrika, belum lagi dengan fakta-fakta di lapangan, mulai dari langkanya minyak tanah,minyak goreng, sampai pada urusan langkanya beras.

Jadi, kenapa angka-angka itu bisa timbul secara bersamaan, mau percaya pada statistik atau percaya pada berita di media-media? Apakah pemerintah terlalu membesar-besarkan keberhasilannya, atau sebaliknya media yang terlalu membesar-besarkan masalah yang sebenarnya tidak semngerikan itu?

Saya tidak tau persis, namun melihat kesungguhan pemerintah, bisa saja memang itu angka mendekati kebenaran, sebaliknya melihat fakta yang ada, pemerintah sepertinya tidak berdaya dalam menghadapi masalah-masalah, bahkan di depan hidungnya sendiri.

Sepertinya selama ini tidak ada prioritas mana yang harus didahulukan, ada hal-hal yang kurang mendesak malah jadi prioritas sementara yang lain seperti terlupakan. Saat DPR dan Eksekutif ramai dengan urusan Iran, pemerintah malah tidak tegas dengan korban lumpur Lapindo yang sudah berlangsung selama 1 tahun dan seperti tidak berdaya mengatasi masalah ini.

Ketidak-berdayaan ini, bahkan mungkin akan terus terjadi hingga lumpur itu tidak tau kapan akan berhenti menyembur.

Yah, kita selama ini memang terbuai dengan angka-angka, dan seperti buta dengan realitas di lapangan.

Itulah kalimat paling yang popular saat ini dan dipopulerkan oleh pelawak Tukul Arwana dalam sebuah tayangan televisi, Empat Mata yang ditayangkan televisi Trans7 yang sebelumnya bernama TV7. Jargon kembali ke laptop ini, berubah menjadi panas, ketika sampai masuk di DPR. Pasalnya para anggota dewan ini rupanya ngiri dengan laptop Tukul sehingga mereka rupanya ingin memiliki laptop, namun karena begitu banyak rintangan cacian, juga sindiran, bahkan berbauh umpatan, dan akhirnya keinginan buat dibeliin laptop akhirnya dibatalkan.

Soal laptop ini kembali menjadi bagian dari kinerja wakil rakyat kita yang lagi-lagi terkesan aji mumpung, mau enaknya, tidak tanggap dengan persoalan yang ada, dan tidak sepertinya tidak peduli dengan amanat yang seharusnya mereka kerjakan, yakni sebagai wakil rakyat yang harus memperjuangkan kepentingan rakyat yang di wakili. Laptop seharga Rp20 juta masih mereka minta, padahal gaji yang mereka terima untuk di bawa pulang ke rumah lebih dari 40 juta tidap bulan, itu belum termasuk yang “lain-lain”. Wakil rakyat yang banyak menggunakan mobil-mobil mewah itu sepertinya masih juga ingin menikmati fasilitas tambahan, seperti laptop itu.

Yah, sepertinya –ini info denger-dengar dari beberapa teman yang pernah berhubungan dengan anggota DPR– selama ini anggota DPR, mungkin hanya oknum, meski oknumny abanyak sekali, mereka rata-rata berkerja berdasarkan proyek. Sebagai contoh, setiap undang-udang, kalau mau disyahkan oleh DPR harus melalui jalan panjang, berliku, dan tentu saja penuh uang dan sogokan. Sejak mulai dari pengajuan ranncanagan undang-undang oleh eksekutif, di sini uang sudah mulai berjalan. Ada yang berupa fasilitas akomodadi untuk mengundang mereka, salam tempel, dan tentu saja bagi-bagi amplop sebagai uang jasa.

Itu baru sebagain, belum lagi urusan proyek-proyek pemerintah yang membutuhkan kontraktor atau konsultan. Bukan rahasia lagi, sering sekali banyak kontraktor atau konsultan tersebut menjadi “titipan” dari anggota DPR itu, selain banyak juga yang berasal dari “titipan” petinggi-petinggi dari masing-masing departemen di lingkungan pemerintahan. Yah, budaya seperti ini masih sangat kasat mata terlihat, bahkan begitu jelan di saat kampanye anti korupsi juga giat dilaksakan.

Inilah Indonesia, negara dimana semua bisa diatur.

oalah :(

Bangsa yang suka mengurangi takaran dan ukuran bakal memiliki pemimpin yang tidak jujur, suka korup, dan membuat rakyatnya hidup sengsara. Demikian salah satu petikan khutbah yang disampaikan khotib, pada suatau Jumat di Masjid yang masih berada dalam sebuah komplek perkantoran di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan.

Soal kutip-mengutip, atau mengurangi ukuran, takaran, jumlah bahkan kualitas sepertinay sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari pelaku bisnis kita. Kita sering pusing dengan tagihan listrik atau air yang naik tiba-tiba. Atau kalau kita naik taksi suka pusing dan ngedumel karena merasa argo meternya berjalan terlalu cepat. Bahkan teknologi yang mutakhir, juga tidak lepas dari pencurian itu, misalnya soal koneksi, apa itu telepon atau internet yang benar-benar tidak sesuai yang dijual.

Pengurangan dari ukuran  sepertinya duah menjadi bagian dalam kehidupan kita. Dan dengan sadar atau tidak, kita juga menikmati serta mengalami kecurangan itu dalam kehidupan sehari-hari. Karena saya bekerja dalam dunia teknilogi informasi alias IT, hampir tiap hari saya bekerja yang membutuhkan koneksi internet. Nah, di sini saya merasakan ada pengurangan itu. Beberaa kali saya merasakan koneksi internet yang terasa sangat lamban, dan ternyata memang ada pengurangan bandwidth yah, kecurangan memang ada di semua lini.

Jadi, mengutip kata khotib tadi, bisa kita merasakan peminpin kita saat ini tidak pernah memperhatikan rakyat, dan hanya mencari keuntungan sendiri, tidak salah kalau kita tanykan kembali pada diri kita. Apakah kita sudah berlaku jujur dalam kehidupan sehari-hari?

Bila tidak, kapankah kita akan mengakhirinya? Kalau memang belum, setidaknya kapan kita mencoba mengakhirinya. Bila memang tidak bisa, bearti kita memang tidak mau mengubah kehidupan yang lebih baik. Dan kita akan dengan tenang, bahkan cukup mafhum, bila menengar pemimpin-pemimpin kita yang sibuk mencari kekuasaan, bahkan di saat rakyatnya menderita pun tetap mereka manfaatkan untuk mencari keuntungan, yah segala keuntungan yang bisa mereka peroleh, apakah kekuasaan, popularitas, atau bahkan uang!

Ampun, Tuhan, semoga saya termasuk salah satu orang yang jujur, dan bukan bagian dari mereka yang suka mengurangi ukuran, takaran, meteran, sampai bandwidth.

Tiba-tiba sebuah berita muncul, kalau acara Republik Mimpi yang tampil di stasiun Metrotv siap-siap disomasi oleh Menkominfo, Sofyan Djalil karena dianggap tidak etis dan melecehkan lembaga kepresidenan. Acara yang merupakan reinkarnasi dari Republik BBM di Indosiar yang dimotori oleh Dosen Komunikasi UI, Effendi Ghazali tersebut kemudian berganti nama (lagi) menjadi Kerajaan Mimpi.

Padahal, sebuah impian bakal melahirkan kesuksesan. Setidaknya, itu yang pernah saya dengar, atau mungkin saya baca, dari orang yang sukses. Yah impian,bahkan sebuah imajinasi yang mungkin tidak masuk akal, ternyata bisa berbuah kenyataan. Makanya, ada pepatah, kalau ingin sukses jangan takut untuk bermimpi, dan menjadikan mimpi itu menjadi kenyataan. Wuiihhh, sepertinya sok banget yah kata-katanya.

Nah, lima tahun atau mungkin enam tahun lalu sebuah impian terngiang-ngiang dalam otak, bahwa suatu ketika ingin kerja tetapi tidak udah harus datang ke kantor. Saya mengimikan tinggal di gunung, dan bisa meremote kerjaan melalui medium yang lain, bisa internet atau satelit. Setelah lima tahun, impian itu setidaknya menjadi kenyataan, meski tidak secara langsung.

Kini, menjalankan kerjaan kantor dari rumah tidak usah harus datang sudah bisa dilakukan, karena menggunakan teknologi yang saat ini berkembang pesat, mobile dan internet. Bahkan, teknologi mobile yang kini ngetop dengan sebutan 3G telah membuat akses internet begitu mudah dan murah. Bahkan berinternet saat pulang kantor bukan hal yang mewah lagi, dan sepertinya mimpi ini ternyata bukan sebagai impian. Sebuah kenyataan yang mungkin dalam lima atau 10 tahun ke depan, semua itu sudah menjadi kebutuhan, menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari, seperti makan, minum, becanda, mandi, atau mungkin jalan-jalan ke mal.

Jadi, impian dalam hidup sepertinya memag harus. Dengan impian, bahkan yang muluk-muluk sekalipun, hidup ini ini menjadi begitu berwarna. Begitu indah, dan begitu “hidup.”

Selamat datang di dunia impian, meski kita tidak tau kapan itu menjadi bagian dalam kenyataan kehidupan kita.

“Entertainment itu paling mudah mencari duitnya. Bahkan dengan gratisan, kita bisa memperoleh uang banyak.” Begitu kisah seorang teman yang gencar membuat majalan gratisan alais free magz yang begitu menjamur dikota-kota besar Indonesia, seperti Jakarta, Bandung, Surabaya dan beberapa tempat lain.

Mungkin, hiburan bagi masyarat perkotaan yang kata penelitian memiliki tingkat stress sanagt tinggi, memang haus akan hiburan, tidak peduli apakah benar-baner menghibur dan menghilangkan stress atau malah stresnya nambah.

Soal itu, tidak usah dibicrakan lebih jauh, namun soal perputaran uang yang beredar di bisnis hiburan ini, waduh begitu besar, dan begitu beragam,mulai dari urusan film, restoran, salon, sampai sampai panti pijat hingga pasar malam.

Makanya tak heran, menjamurnya majalah-majalah gratis yang dipenuhi iklan hiburan begitu menjamur, yang menurut sorang teman hampir mencapai 100-an penerbit, hanya di Jakarat saja yang terbit minggu, dwi mingguan, sampai bulanan.

Di sisi lain, dunia hiburan ini, juga berkembang, mulai dari urusan pentas kesenian, dugem, konser musik, sampai pada urusan film.

Untuk yang satu ini, dunia perfilm-an memang mulai bangun dari pingsan. Sejak 5 tahun terakhir, produksi film nasional memang terus menunjukkan gejala makin tumbuh, dengan ditandai produksi yang terus berkembang. Meski urusan kualitas masih belum kelihatan, namun untuk urusan bisnis sudah menunjukkan adanya peluang yang cukup terbuka.

Bisnis hiburan ini memang benar-benar menggiurkan, sebagai pembanding, meski kurang pantas,  di Hollywood menurut Asosiasi Film AS (MPAA) mengemukakan pemasukan dari hasil penjualan karcis film mencapi 25,8 miliar dolar pada 2006. Kalau dirupiahnya, angkanya sungguh sangat fantastis, mencapai sekitar 250 triliun. Wahhh!

Namun, untuk sampai ke sana, mungkin bagi Indonesia masih jauh sekali, atau bahkanseperti tidak mungkin.

Berubah memang sebuah kata yang mudah diucapkan, namun seringkali begitu susah untuk dilaksanakan. Perubahan, terkadang sering seperti meninggalkan sesuatu yang sudah pasti lalu menuju ke sebuah jalan, mungkin lorong, atau hutan ketidak-pastian untuk mencapai sebuah harapan atau sebuah kepastian baru yang mungkin saja mudah ditemukan atau sebaliknya bakal susah ditemukan.

Hari ini, (03/01/07) menjadi hari pertama dalam sebuah perubahan itu. Yah, inilah hari pertama menjejakkan sawah baru dan meninggalkan sawah lama yang sudah hampir enam tahun dengan setia telah dibajak, dicangkul, serta ditanami dengan penuh perhatian, kecintaan, bahkan sering dengan pengorbanan. Semua itu kini telah ditinggalkan, termasuk rekan, teman, serta kolega yang selama ini penuh keceriaan, keakraban, canda tawa, bahkan sampai adegan marah-marah dalam mengelola dan menjalankan sawah tempat mencari makan itu.

Semua itu, kini tinggal bayang-bayang, kenangan bahkan terkadang tumbuh kebencian meski keriaangan tetap mendominasi memori yang berputar-putar di kepala. Sebuah babak baru, langkah baru, bahkan dengan langkah yang sangat berat untuk meninggalkannya akhirnya bisa juga dilakukan.

Kini, babak baru ini diharapkan bisa menjadi sebuah perubahan, sebuah keberanian untuk berubah, dan semua ke arah yang benar. Bila kemudian akhirnya menjadi tersesat, semoga tetap tersesat di jalan yang benar.

Amin

Sebuah suguhan kebrutalan, kekerasan, keegoisan, bahkan sering tanpa etika, bahkan sering tampil seakan manusia kini sudah tanpa hati, perasaan, dan yang ada hanya naluri belaka tampil di layar tivi kita belakangan ini. Dimulai dengan heboh soal smackdown, kemudian beralih ke video syuur, sampai saling-silang poligami Aa Gym, hingga kemudian berita seputar artis yang meninggal mengenaskan di sebuah hotel yang ditampil utuh, mulai wajah hingga seluruh tubuhnya!

Yah, mayat artis yang selama ini dikenal sebagai penyanyi Alda ditampilakn wajahnya saat nyawa sudah lepas dari raganya. Sepertinya para pengelolali televisi itu tidak lagi punya hati nurani. Lepas, liar, bahkan tanpa kontrol dan hanya mengejar rating and sharing saja, meminjam istilah pelawak Thukul Arwana yang berarti hanya urusan menarik penonton, dan menjadi mayoritas.

Sepertinya, pengelola tivi kita meski tidak semuanya memang tidak lagi mementingkan apa isi tayangannya, yang sering ditampilkan pokoknya tidak melanggar sensor yang selama ini kriterianya, sering hanya berupa urusan kekerasan, seks, atau berbau sara yang kadang-kadang secara vulgar semua itu tampil, namun secara vulgar pula mereka menyatakan itu terjadi.

Kalau seperti ini, memang diri kita sendirilah yang paling berhak menentukan, apakah mau terus menikmati kebrutalan itu, atau menghentikannya. Yah, semuanya memang kembali kepada diri kita. Menehan diri, sebuah ungkapan yang mungkin sangat normatif, dan sangat klise itu harusnya memang diresapi lebih dalam lagi, dan diimplemantikan ke diri kita sendiri.

Kalau bukan dari diri kita, lalu siapa lagi? Pengelola tivi itu tidak bisa langsung disalahkan, kita memang menyukai semua yang mereka tawarkan. Mereka memang menyuguhkan apa yang selama ini menjadi, mungkin kebutuhan kita sehari-hari itu. Kalau tidak, mana mungkin tontonan itu menjadi begitu popular kalau diri kita tidak menyukainya.

Akhirnya, meski ini menjadi seperti kalimat putus asa, tidak ada jalan terbaik bagi kita dengan menahan diri untuk tidak menikmati tayangan-tayangan itu, sehingga rumah kita tidak lagi dipenuhi oleh, kebrutalan, kebengisan, kekerasan, dan perilaku tanpa hati yang sampai masuk ke ruang tidur kita.

Kalau sudah sudah tua, bahkan sudah menjadi pejabat tetapi masih saja asal bicara tentunya tidak lucu banget. Iya kalau masih muda, masih ABG dan gaya bicaranya masih ada lucu-lucunya, tentu omongan yang ngasal itu menjadi sedikit menghibur bahkan bisa tadi trend terus jadi lucu. Misalnya ponakan saya yang begtiu suka bilang cape deh dengan mimik lucu bila menghadapi masalah, atau lagi bersitegang dengan kakaknya untuk sebuah pembicaraan yang sepertinya tiada ujung.

Pejabat sekarang (atau mungkin dari dulu)  memang suka asal bicara, tampa harus memikirkan dampaknya di kemudian hari. Sebuan omongan yang sampai kini mungkin masih membekas, ketika seorang menteri untuk urusan sumber daya mineral di negeri ini, begitu lantang bicara di televisi saat memberikan komentar soal musibah Lumpur Panas Lapindo di Porong, Sidoarjo dengan mengatakan  kejadian itu sebagai hal biasa, dan sering terjadi di setiap kegiatan eksplorasi sumber alam.

Ketika banyak penduduk di sekitar situ mengeluhkan lumpur yang terus keluar, bahkan sedikit demi sedikit penduduk mulai mengungsi, sang meneri masih bersikeras itu hal biasa, dan tidak usah diributkan untuk mengatasinya. Namun, kini semua akhirnya mengetahui, lumpur itu semakin mengganas dan sang menteri, di kemudian hari menyatakan itu keadaan luar biasa, dan akhirnya pemerintah ikutan mengatasinya, setelah penderitaan masyarakat di sana makin menyedihkan. Ribuan penduduk kehilangan tempat tinggal, pekerjaan, bahkan efeknya bisa mematikan kegiatan industri di Jawa Timur, setelah banyak ruas jalan tol akhirnya tidak bisa dilalui, pipa gas yang menjadi kebutuhan vital di banyak industri Jawa Timur akhirnya terganggu, bahkan terhenti setelah salah satu pipa dekat semburan lumpur itu akhirnya meledak, bahkan membawa korban meninggal.

Pejebat itu, pada akhirnya menyadarai bencana yang terjadi, namun seperti tidak mengungkapkan permintaan maaf atas kata-kata yang telah diucapkan pertama kali. Yah, gaya keadaan seperti ini  seperti telah menjadi semacam model di hampir semua pejabat kita. Asal bicara yang tidak jarang juga dibarengi dengan ucapan bohong-bohongan kemudian disertai perdebatan untuk urusan yang nggak penting bahkan sering tidak mengindahkan subtansi  sering kita baca, dengar, dan lihat  koran, radio, dan televisi kita.

Mungkin budaya kita memang demikian, yang penting ngomong aja dulu kan ujung-ujungnya bisa memperoleh popularitas. Sementara mereka yang jarang ngomong namun kerja keras, tetap saja di belakang.

“Makanya, ngomong dong.” Tapi  jangan asal ngomong ah!

Sebuah warung di pasar modern Bumi Serpong Damai, mengusik saya. Warungnya sih biasa aja, cuma namanya yang menjadi menarik, Sotomie Triji, iya dia menulis triji bukan 3G yang kini menjadi icon baru dalam dunia telekomunikasi yang diartikan sebagai kemajuan teknologi dengan pita saluran lebih lebar lagi dan lebih cepat sehingga bisa menonton saluran tivi atau mendownlaod lagu-lagu atai film dengan kecepatan luar biasa.

Si pemilik warung, sepertinya sadar betul akan demam 3G yang kini gencar dipromosikan oleh para operator selular. Promosi gencar itu mulai di televisi, media cetak, sampai internet. Meski banyak orang awam bingung dengan istilah 3G, tidak demikian dengan penjual sotomie tersebut. Padahal, definisi umum 3G sebagai sebuah solusi nirkabel yang bisa memberikan kecepatan akses:

  • Sebesar 144 Kbps untuk kondisi bergerak cepat (mobile).
  • Sebesar 384 Kbps untuk kondii berjalan (pedestrian).
  • Sebesar 2 Mbps untuk kondisi statik di suatu tempat

Namun, tanpa mengurangi rasa hormat dengan pemilik warung, bisa jadi dia memang tau betul arti dari 3G sehingga dia dengan sadar memilih nama itu sebagai brand atau merek dari produk sotomienya. Selama ini memang banyak turunan merek yang berhasil dibanding merek awalnya. Yamaha, misalnya menurut seorang teman sebenarnya awalnya memang dari industri alat-alat musik. Buktinya, logo yang dia pakai menggunakan tiga garpu tala yang sangat identik dengan dunia musik. Namun, kini mereka lebih dikenal sebagai penghasil sepeda motor kelas satu, meski juga dikenal sebagai penghasil alat musik kelas satu juga, seperti piano atau gitar.

Kembali ke sotomie, makanan khas yang katanya asal bogor, terdiiri dari daging cintang, kol, bihun, potongan gorengan mirip cakue, dan kuah yang aromanya khas, yang begitu nikmat disantap saat cuaca dingin, bisa jadi nama itu bisa menghasilkan kemungkinan sotomie menjadi makan kelas dunia. Iya siapa tau, dari nama sotomie triji  di kemudian hari bisa dikeketmukan sotomie dengan rasa, atau cara penyajian yang lebih spektakuler serta menghasilkan gelegar dan keinginan untuk mencicipi, seperti kita ingin tau banget dengan 3G yang kini menjadi demam itu.

Iya, siapa tau.

Next Page »