Pernah nonton serial Desperate Housewife yang lebih ke ibu-ibu kelas atas dan bertetangga ala dunia barat, atau yang begitu metropilis dan lajang seperti Sex and The City, sampai yang membawa model dengan tema kantoran seperti Ally McBeal. Di antara belantara persaingan bisnis, rumah tangga, pergaulan sampai sebuah kegiatan kemanusiaan, ada satu gaya hidup yang sebanarnya sudah terjadi sejak zaman dulu kala, selingkuh!

Yang membedaan denan dulu, mungkin kualitasnya atau aktivitasnya. Manusia, sebagai mahluk sosial memang tidak bisa hdiup sendiri. Mereka harus berinteraksi dengan sesama manusia, baik itu yang sejenis atau lawan jenis. Dari interaksi itu, ada hubungan yang normal, ada yang lebih dari sekedar normal.

Serial Desperate Housewife, dari judulnya saja kita bisa mengira-ngira tentang tidak berdayanya para istri. Namun, jangan salah meski judul menggambar istri-istri yang desperatemalah ada yang bisa membuat suaminya desperate akibat ulah istrinya. Bagimana tidak, sang istri itu dengan enakny aberselingkuh dengan pria-pria yang lebih muda, bahkan selingkuh dengan anak tetangganya sendiri, atau bahkan dengan tukang kebun yang merawa rumahnya.

Dalam Sex and The City mungkin sedikit berbeda. Wanita-wanita lajang itu lebih menikmati kelajangannya meski terkadang suka berselingkuh dari pacar-pacarnya, atau bahkan menyelingkuhi pacar temannya. Komunitas pertemanan mereka bukan karena satu kantor, tetapi memang komunitas pertemanan yang menyatukan mereka. Sangat berbeda ketika persleingkuhan terjadi dalam serial Ally McBeal yang lebih menorot hubungan mereka di kantor, juga perselingkuhan, dan persaingan yang terjadi, termasuk intrik-intrik untuk saling menjatuhkan temannya sendiri.

Kehidupan di kota besar Indonesia mungkin dengan lebih permisif menerima polah dantingkah seperti itu. Meski selingkuh bukan monolpoli yang bisa dilakukan penduduk kota, tetapi akses, mulai dari komunikasi, interaksi, hingga tempat yang lebih mendukung membuat perselingkuhan itu menjadi lebih berpeluang besar dilakukan oleh masyarakat perkotaan.

Bahkan, sebuah gaya hidup berselingkuh pun tiba-tiba seperti menjadi trend yang oleh sebagian masyarakat dianggap sudah biasa. Dalam likungan kantor, kita bahkan bisa menemukan “adegan” perselingkuhan dengan jelas. Dalam tayangan televisi yang penuh gemerlap artis, seperti infotainment kita juga sering melihat “perselingkuhan” itu.

Yang lebih menghebohkan lagi ialah terjadinya “perselingkuhan” antara pemerintah, pengusaha, dan para wakil rakyat kita. Dan itu bisa kita baca dari berita soal demo para buruh yang menolak revisi sebuah undang-undang karena hal itu dilakkan dari hasil “perselingkuhan” pengusaha dan penguasa yang lebih celakanya lagi bakal disahkan oleh para wakil rakyatnya sendiri yang bernama DPR>

Lalu sebaiknya kita tanya diri kita sendiri, apakah juga telah melakukan perselingkuhan?