Sebagai orang muslim, doa ini sering kita panjatkan seusai sholat Jumat. Doa yang konon pertama kali dilakukan oleh Abu Nawas, salah satu tokoh islam yang terkenal dengan kecerdikannya, dan sering membuat heboh sang amir awaktu itu, Khalifah Harun Al Rasyid. Disa sering dipanggil bahkan diancam hukuman, namun akhirnya sang Abu Nawas selalu bisa beragumentasi dan sang Khalifah bisa menerima argumentasinya, bahkan selalu berterima kasih karena diingatkan, meski dengan gaya seperti orang usil dan bernada canda.

Tokoh yang sudah melegenda dengan kisah 1001 malam ini memang lebih banyak dikenal dengan kecerdikannya dan selalu membuat usil. Bahkan doanya yang sering kita baca usai sholat jumat, “ilaahilas turil firdausi ahla walaahwa alanaariljaahimin wahabli taubatan waghfirdunubi fainnakaho firudzanbil aadhimiin” arti bebasnya mungkin seperti ini, Ya Tuhanku, rasanya aku nggak pantas masuk surga-Mu, namun aku juga nggak kuat di dalam neraka-Mu, tapi aku selalu berusaha untuk selalu bertobat kepada-Mu agar bisa termasuk orang yang beriman.

Doa yang diplomatis memang, tapi apakah Tuhan mengabulkannya? Wallau A’lam Bisshowab tergantung pada diri kita, dan niat kita untuk selalu mendekatkan di kepada Tuhan sesuai dengan keyakinan dan kemampuan kita.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita memang banyak menyaksikan sebuah kontradiksi yang sepertinya tidak bisa diterima oleh nalar. Seorang walikota di sebuah kota di Jawa Timur pernah dengan enteng berkata, semua manusia sama saja, doyan duit. “Buat apa kita mendengar omongan para kyai (tokoh agama), ujung-ujung pasti duit, dan semua beres,” kata sang Walikota. Dia menvonis bahwa semua manusia sama, baik itu yang biasa, politikus, pintar, bodoh, tokoh agama, semuanya doyan duit.

Meungkin dia memang terlalu naif, atau punya pengalaman buruk dengan kyai. Namun dia juga tidak bisa dibenarkan, karena seperti yang kita tau semua kyai begitu. Sama saja ketika ada orang berdemo menentang kemungkaran yang menurut mereka melanggar kesucian agama, lalu mambawa atribut agama dalam demonya, tapi yang dilakukan sama sekali tidak menunjukkan tingkah sebagai orang yang beragama. Kekerasan yang sangat dilarang agama untuk tidak dilakukan, malah sering dilakukan dalam “pengkutukan” terhadap orang-orang yang diyakini telah melecehkan agama.

Persoalan dia baik apakah dia melanggar agama Tuhan, sepertinya bukan hak kita sebagai manusia untuk menilainya. Sebagai manusia, mahluk Tuhan, kita memang memiliki keterbatasan, termasuk keterbatasan dalam melaksanakan agama yang sudah diturunkan Tuhan melalui nabi dan rosul-rosulnya. Agama diturunkan sebagai petunjuk agar kita hidup lebih beradab, dengan sesama mahluk dan tentu saja dengan sang Khalik, sang Pencipta, yakni Allah subhanahu wata’ala.

Seandainya, para utusan Tuhan itu melihat apa yang telah kita lakukan saat ini dalam menjalankan agamanya, apakah mereka tersenyum dengan apa yang sudah kita lakukan sekarang? atau malah menangis karena ajaran yang dia sampaikan sama sekali tidak berbekas di hati para umatnya? Mereka mengaku bergama, memiliki pengetahun lebih tentang agama, mengaku sebagai penjaga kemurnian agama, tetapi dilakukan dengan cara-cara yang jauh dari agama yang mereka bela itu sendiri?

Wallau A’lam, rasanya memang saya tidak pantas untuk masuk surga, namun saya tidak kuat jika dimasukkan neraka-Mu ya Tuhan.

Semoga Allah selalu memberikan pentunjuk ke jalan yang lurus.

Ditulis usai Sholat Jumat di Masjid Al Maimun Kebagusan, Jaksel